Jumat, 05 November 2010

Tetap Rahasia ku

Tak selamanya…..
Kau harus tau rahasia ku
Tapi kenapa kau paksa aku
Tuk memberi tau mu
Apakah itu wajib?
Semua ini…..
Kau yang bilang padaku
Aku hanya percaya
Pada diri ku sendiri
Tidak pada siapapun termaksud kamu
Walau ku tau….
Kau sahabat sejati ku
Tetapi ini tetap
Rahasia ku sendiri
Tanpa siapa pun dan seorang pun
Yang mengetahuinya

Kamis, 04 November 2010

Cobaan Untuk Persahabatan

“ Kita akan terus barsahabatkan, Na?” tanya Lita
“ Tentu, kamu sahabat ku satu-satunya!” jawab Ana yakin
“ You are my best friend “ sahut Lita
Lita dan Ana adalah dua gadis yang bersahabat. Mereka sudah sangat lama bersahabat. Mereka selalu bersama mulai dari kelas satu SD,hingga sekarang mereka sudah kelas tiga SMP.
“Menjengkelkan sekali melihat mereka! Sok akrab banget. Menyebalkan!!!” gerutu Mika
Dimana ada persahabatan, tentu ada cobaannya. Dan inilah yang terjadi pada Lita dan Ana.
Disaat Lita dan Ana di kantin, disinilah semuanya berawal.
“ Na, kamu mau makan apa? ” Tanya Lita
“ Seperti biasa, Ta!” jawabnya, “ Ta, aku mau ke toilet dulu ya? Kamu tau kan yang biasa aku pesan? “ Lanjut Ana
“ Ok!! “ jawab Lita singkat
“ Hai, Ta! “ Sapa Mika tiba-tiba
“ Hai….” Jawab Lita sambil tersenyum
“ Kamu masih sahabatan sama Ana? Kok kamu mau sih? “ tanya Mika
“ Maksud kamu apa, Ka? “ Balas Lita
“ Maksud aku? Ya ampun, Ta! Jadi, kamu nggak tau?” Tanya Mika lagi, “ Ana itu, selalu ngeledekin kamu, dan ngejelek-jelekin kamu. Aku nggak bermaksud merusakan persahabatan kalian lho!! Tapi, aku kasihan aja sama kamu. Masa, kamu sudah baik sama dia. Tapi…., dia malah kaya gitu sama kamu. Aku sih pikir-pikir dulu mau sahabatan sama dia.” Jelas Mika panjang lebar.
“ Lagi ngomong apa nih? Kok serius banget?” Tanya Ana tiba-tiba
“ Nggak apa-apa kok!” Jawab Lita
“ Ya udah! Aku duluan ya?” Kata Mika meninggalkan tempat itu.
Sejak dari itu, perlakuan Lita mulai berubah derastis kepada Ana. Tentu saja semua ini membuat Ana bingung. Sebelum ini Lita tidak pernah seperti ini kepada Ana.
Disaat Ana sedang duduk sendiri, sambil memikirkan tingkah sahabatnya. Tiba-tiba Mika datang menghampiri.
“ Hai, Na! kok nggak sama Lita sih?” Tanya Mika menghampiri
“ Nggak apa-apa kok!” Jawab Ana
“ Ups…! Aku lupa!! Kamu kan sudah nggak sahabatan lagi sama Lita. Benarkan?” Kata Mika tiba-tiba
“ Nggak….! Kamu dapat berita kaya gitu dari mana? Siapa juga yang bilang? Aku masih sahabatan kok sama Lita!!” Jawab Ana protes
“ Masa sich?” Mika terkejut, “ Lita sendiri yang bilang lho!! Katanya kalian sudah nggak sahabatan lagi!” lanjutnya
“ Apa…..??”Ana histeris tidak terima
“ Kalo aku sich, nggak bakalan anggap Lita sebagai sahabatku lagi. Dia aja nggak anggap aku. Bukannya mau merusak persahabatan kalian, ya! Itupun kalo kalian masih sahabatan. Aku kasihan aja sama kamu. Masa punya sahabat kaya gitu? nggap anggap kamu sebagai sahabatnya lagi.” Kata  Mika panjang lebar, “ Kalo aku pikir-pikir dulu deh punya sahabat seperti itu. Kayaknya kamu juga harus pikirin deh!!” lanjut Mika sambil meninggalkan Ana
Setelah kejadian itu, Ana dan Lita tidak akrab seperti dulu lagi, mereka berdua saling berburuk sangka kepada sahabatnya sendiri. Ini semua karena Mika
Beberapa minggu kemudian, tidak sengaja mereka berdua di dalam kelas. Tidak ada seorangpun yang berada di kelas itu. Kelas itu hening sekali.
“ Kenapa?” Tanya Lita membubarkan hening
“ Apa yang kamu maksud?” Ana balik bertanya
“ Kenapa kamu selalu ngeledekin aku dan ngejelekin aku dibelakangku? kamu itu nusuk dari belakang.” Kata Lita, “ Kamu tega ya?” lanjutnya
“ Apa maksud kamu? Aku nggak mengerti.” Tanya Ana lagi, “bukannya kamu yang tega sama aku? Kamu nggak akuin aku sebagai sahabat kamu, dihadapan teman-teman yang lain, kan? Benarkan?” mereka mulai terbawa emosi
“ Siapa yang bilang aku seperti itu?” Tanya Lita
“ Terus, siapa yang bilang aku sudah ngejek kamu dari belakang?” Tanya Ana balik
“ Mika…”Jawab Lita, “Terus siapa yang bilang kalo aku nggak ngakuin kamu sahabatku?” Lanjut Lita
“Mika…” Jawab Ana pendek
Merekapun langsung berdiri dari tempat duduk mereka, dan mencari Mika. Saat mereka bertemu dengan Mika….
“ Apa maksud kamu, Mik?” tanya Lit, “ Kamu mau mengadu domba kami ya?” lanjutnya
“ Ada apa sih?” jawab Mika
“ Kamu nggak usah berkilah lagi deh! Kami sudah tahu semuanya!” kata Ana
“ Tau apa? aku nggak ngerti deh…!” Tanya Mika berpura-pura tidak tau
“ Kamu bilang, aku nggak ngakuin Ana sebagai sahabat ku kan? Padahal itu nggak benar sama sekali” Kata Lita
“ Dan kamu bilang aku ngejek Lita dari belakang! Padahal aku nggak pernah lakuin itu!” Kata Ana
“ Aku…aku…aku…” Mika kehabisan kata-kata dan berlari meninggalkan mereka dengan rasa malu yang sangat besar
Lalu, Lita dan Ana kembali menjadi sahabat yang sangat akrab

Rabu, 03 November 2010

Akhir persahabatan Ica


Ica mempunyai teman bernama Dinda. Awalnya Ica sangat senang mempunyai sahabat seperti Dinda. Ica sangat gembira saat itu! Akhirnya Ica mempunyai teman yang baik hati, cocok sekali dengannya.
Dinda sangat mengerti Ica , Ica selalu tersenyum bahagia kalau berada di samping Dinda
Ica selalu memberi tahukan curahan hatinya. Bisa dibilang juga Dinda sebagai teman curhatnya. Dinda benar-benar teman yang sempurna bagi Ica
Ica sudah menganggap Dinda sebagai kakaknya sendiri, karena sifat Dinda yang dewasa, mengerti keadaan Ica, lebih tua dari Ica dan bagi Ica, Dinda sangat cocok menjadi kakaknya
Tapi, kenyataan yang pahit mulai mendekatinya, bagaikan hujan lebat yang datang di hari yang sangat cerah. Tidak sesuai dengan dugaannya, Dinda berubah dan membuat Ica kecewa
Saat itu Ica merasa sedih, kecewa, benci, sakit dan kehilangan. Semua bercampur menjadi Satu.
Ica tidak percaya dengan perubahan sikap Dinda. Ica syok atas perubahan itu. Awalnya Ica menganggap itu hanya sementara. Tapi, setelah beberapa hari berlalu Dinda tetap tidak menghiraukan Ica
Ica termenung memikirkan semua itu, baginya itu semua sangat mengejutkan. Setelah beberapa lama terpikir, Ica sadar bahwa ia harus menjauh dari Dinda. Awalnya ia mencoba untuk berpindah tempat duduk, yang dulu selalu disamping Dinda, kini mulai menjauh.
Selama Ica menjauh dari Dinda, Dinda mulai akrab dengan Gina. Saat Ica merasa kesepian, sedangkan Dinda telah mendapatkan penggati Ica. Dan itu semua membuat Ica sangat iri dengan Gina, karena Gina telah menggatikan posisinya
Ica selalu melihat dari kejauhan, Dinda selalu tertawa bersama Gina. Ica iri dan tidak dapat menerima bahwa Dinda menjauhinya
Terpikir dalam benak Ica, lebih baik ia hilang ingatan dan melupakan Dinda. Karena bagi Ica ini sangat menyakitkan
Sudah beberapa bulan berlalu, tidak terasa setengah tahun Ica menghadapi kenyataan yang menyakitkan baginya. Dan besok adalah ulang tahun Dinda.
Ica sudah bertekat untuk memberi sebuah kado untuk Dinda. Kado tersebut berisi semua kenang-kenangan saat ia akrab dengan Dinda. Itu adalah kenangan terindah bagi Ica.
Di kado itu terselip surat yang berisi:
“ Hai Dinda….
Happy birthday to you!!! Sudah lama ya nggak bersama!! Maaf ya! Aku Cuma mau mengembalikan semua ini, mungkin semua ini nggak berharga buat kamu. Tapi, ini sangat berarti bagiku. Dinda, bolehkah aku bertanya sesuatu sama kamu? Kenapa sih, kamu ngejauhin aku? Aku ada salah ya? Maaf ya!! Mungkin sampai disini dulu. Sekali lagi, happy birthday to you, Dinda!!”
Setelah itu, perasaan Ica sudah mulai lega. Tidak ada lagi yang mengganjal di hatinya
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Dinda tidak pernah memberikan jawaban untuk Ica
Tidak terasa bagi Ica sudah setahun berlalu. Sangat banyak kenangan yang indah bagi Ica, walaupun ada yang terasa pahit
Dinda belum juga memberikan jawaban pada Ica. Walaupun kenaikan kelas telah tiba.
Dan akhirnya Ica benar-benar tidak mengetahui apa penyebab perubahan Dinda. Karena Ica pindah ke luar kota mengikuti orang tuanya.
Sebenarnya ada rasa menyesal di hati Dinda, kenapa ia menjauhi Ica dan mengapa ia tidak membalas surat Ica. Tetapi, penyesalan selalu datang belakangan.